Yulian Gunhar, anggota DPR RI dari PDI Perjuangan, Daerah Pemilihan Sumatera Selatan II. Yulian naik sampai ke meja pimpinan sementara kemudian memijat dan mencium Utje Popong Djundjunan.
Kolonialisme hanya menjadi cerita usang, mengenai kapal-kapal kayu dengan pelaut tangguh dari Eropa yang memburu sumber rempah-rempah. Enam abad kemudian kolonialisme gaya baru masuk dan menyelinap ke negeri kita tanpa disadari, lalu menguras kekayaan kita.
Percaya atau tidak, globalisasi selain membangkrutkan secara ekonomi, juga pangan. Empat puluhan tahun lalu, tepatnya 20 Januari 1949, pertama kali Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman, melontarkan kebijakan luar negerinya. Saat itulah dimulainya wacana pembangunan, sebagai harapan bagi dunia ketiga yang tercabik-cabik oleh perang dunia kedua.
Awal saat akan menulis ini, cukup sulit bagiku mencari judul yang pas. Sudah beberapa hari aku ingin memperbarui blog ini. Ketika akan menuangkan gagasan, semuanya hilang dalam sekejap setelah menonton beberapa video YouTube yang cukup bahkan sangat menyentuh. Bermula dari aku menemukan satu video YouTube di tagged.com, lalu spontan aku klik link-nya. Setelah itu, aku menemukan video lain yang sarat dengan makna.
You Can Shine Anda dapat bersinar! Sebuah iklan sangat menyentuh yang menyampaikan pesan bahwa siapapun dapat bersinar. Memang tentu saja itu adalah maksudnya tentang tata rambut wanita yang terurai panjang dan bercahaya. Tetapi maksud di belakang itu tentu saja pencapaian sebuah cita-cita.
Kisah seorang gadis tuli dan bisu yang belajar bermain biola melawan segala rintangan. Ketika kecil, dia menyaksikan seorang pemain biola dalam pertunjukannya sebagai seorang pengamen. Setelah besar dan masuk sekolah, bocah cilik itu belajar biola. Banyak yang mencemoohkan terutama dari rivalnya.
Que Sera Sera
Inilah video YouTube yang aku temukan saat membuka akun di tagged.com. Saat menonton video ini, terus terang aku sempat menitikkan air mata. Bahkan anak-anak cacat pun memiliki banyak harapan, apalagi orang-orang yang normal.
Bagaimana lagu Que Sera Sera ini bisa menjadi inspirasi bagi Thailand Princess Mother’s Volunteer Foundation dan Thai insurance company untuk menjadi tema iklan yang menampilkan anak-anak cacat menyanyikan lagu tersebut (Qu Sera Sera)? Best Commercial Ever Que Sera Sera (Whatever Will Be Will Be)
Que Sera Sera - Lagu yang menjadi tema dalam iklan komersial di video itu benar-benar iklan yang begitu kuat dan bisa membuat menangis siapapun yang menontonnya. Paling tidak membuat terdiam karena begitu menyentuh.
When I was just a little girl I asked my mother what will I be Will I be pretty will I be rich Here's what she said to me
Que Sera Sera Whatever will be will be The future's not ours to see Que Sera Sera What will be will be
When I grew up and fell in love I asked my sweetheart what lies ahead Will we have rainbows day after day Here's what my sweetheart said
Que Sera Sera Whatever will be will be The future's not ours to see Que Sera Sera What will be will be
Now I have children of my own They ask their mother what will I be Will I be handsome will I be rich I tell them tenderly
Que Sera Sera Whatever will be will be The future's not ours to see Que Sera Sera What will be will be Que Sera Sera
Ketika aku hanyalah seorang gadis kecil Aku bertanya pada ibuku, aku akan menjadi apa Apakah aku kan menjadi cantik, menjadi menjadi kaya? Inilah yang dia katakan padaku
Que Sera Sera Apapun akan terjadi Masa depan bukan milik kita untuk melihat Que Sera Sera Apa yang akan terjadi, terjadilah
Ketika aku tumbuh dewasa dan jatuh cinta Aku bertanya kekasihku, apa yang ada di depan Apakah kita memiliki hari demi hari dan pelangi Inilah yang dikatakan kekasihku
Que Sera Sera Apapun akan terjadi Masa depan bukan milik kita untuk melihat Que Sera Sera Apa yang akan terjadi, terjadilah
Sekarang aku punya anak-anak Mereka pun bertanya pada ibu mereka, akan menjadi apa Apakah aku akan tampan dan kaya Aku pun memberitahu mereka dengan mesra
Que Sera Sera Apapun akan terjadi Masa depan bukan milik kita untuk melihat Que Sera Sera Apapun akan terjadi Que Sera Sera
Just Do It!
Hanya sepotong kalimat, tetapi telah membuat diriku begitu banyak berubah. Masa kecilku begitu bahagia. Hingga menginjak remaja dan dewasa, aku melalui jalan panjang tidak begitu rumit. Seakan jalan terbentang luas tanpa hambatan sedikitpun. Sudah terbayang di pelupuk mata bagaimana masa depanku yang begitu bersinar dan cemerlang, begitu anganku. Lalu bertahun kemudian, aku sempat tersandung. Selama bertahun-tahun pula aku sempat tenggelam dalam kekecewaan. Tidak sampai begitu putus asa memang. Aku melalui tahun demi tahun mengharapkan sebuah keajaiban, tetapi tidak kunjung datang.
Walau begitu, dalam kekecewaan, aku masih sempat melakukan sesuatu yang bermanfaat. Membaca buku, terlibat dalam kegiatan sosial dan masih punya harapan. Ternyata harapan itu bagai hanya sebuah harapan. Entah kapan harapan itu akan terwujud..
Bertahun-tahun kemudian pula, aku mendapat pesan "just do it!". Kerjakanlah apa yang bisa dikerjakan. Bertindaklah.. Selama sebelumnya ketika aku tenggelam dalam kekecewaan, aku menunggu perfect untuk bertindak atau melakukan sesuatu. Ternyata itu keliru. Bertindaklah tanpa harus menunggu perfect karena perfect itu sendiri tidak akan ada atau datang begitu saja tanpa melakukan apa-apa.
Aku dapatkan pesan "just do it" itu via sms dari temanku yang juga seorang blogger.
Ketika mereka para
pasien mengulurkan tangan untuk diperiksa oleh Prof. Kurokawa, mereka akan
menyentuh sepasang tangan yang hangat. Dengan demikian akan dapat menyalakan
api harapan dan semangat untuk bertahan hidup. Menyalakan harapan dan
kepercayaan untuk melakukan terapi. Tetapi jika yang mereka sentuh adalah
sepasang tangan yang dingin, hati mereka juga akan dingin membeku. Sehingga
mereka kehilangan harapan.
Jika kita mengetik kalimat “Mengulurkan
Tangan Hangat” di mesin mencari, maka akan muncul banyak link serupa tentang hasil
penelitian Profesor Kurokawa dari Jepang yang mendapat penghargaan tertinggi di
dunia kedokteran.
Seorang penulis terkenal dari Jepang dalam
sebuah buku “Pengalaman guru saya” dalam sebuah deskripsinya menceritakan
sebuah kisah (penelitian Profesor Kurokawa tersebut)
Hasan Basri, pada mulanya adalah seorang pedagang permata yang termashur dengan julukan "Hasan Permata". Sering berdagang ke Bizantium (Turki sekarang), bersahabat dekat dengan perdana menteri kerajaan itu.
foto: goodandlost.org
Dilahirkan di Madinah pada 21 H (642 M) dengan nama Al Hasan bin Abi Al Hasan. Bersahabat dekat dengan Zaid bin Tsabit, seorang juru tulis Rasulullah Muhammad SAW. Dibesarkan di Basrah dan berkenalan dengan banyak sahabat Nabi. Tujuh di antara sahabat tersebut adalah para pejuang perang Badar.
"Mari ke suatu tempat bila kau setuju," kata Perdana Menteri Bizantium mengajak Hasan Basri pada suatu hari. "Terserah yang mulia, " jawab Hasan. Lalu Perdana Menteri mengatakan tujuannya. Hasan Basri bersedia.